Jauhi Narkoba

Pusat Informasi Artikel, Makalah, dan Terapi Seputar Dampak & Jenis Narkoba

Tahapan Rehabilitasi: Asesmen Awal dan Diagnosis

Dipublikasikan 21 September 2016 · Kategori: Informasi Narkoba

Bagi keluarga yang baru pertama kali mengantarkan anggotanya ke lembaga rehabilitasi, sering muncul pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi di hari-hari pertama? Jawabannya adalah asesmen awal dan diagnosis. Tahapan ini merupakan pintu masuk seluruh proses rehabilitasi, dan kualitas pelaksanaannya sangat menentukan apakah program yang dijalani nanti benar-benar sesuai kebutuhan si pecandu.

Banyak orang membayangkan rehabilitasi sebagai sekadar menginap dan disapih dari narkoba. Padahal penyalahgunaan zat adalah masalah yang berlapis: ada faktor fisik, psikologis, dan sosial yang saling terkait. Tanpa pemetaan yang cermat di awal, terapi bisa salah sasaran.

Apa Itu Asesmen Awal

Asesmen awal adalah pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi pecandu sebelum program rehabilitasi ditentukan. Pada tahap ini petugas mengumpulkan riwayat pemakaian zat: jenis narkoba yang dipakai, sejak kapan, seberapa sering, berapa dosisnya, dan lewat cara apa. Riwayat upaya berhenti sebelumnya, termasuk pernah kambuh atau tidak, juga digali.

Selain riwayat zat, asesmen mencakup kondisi kesehatan umum, riwayat penyakit, dukungan keluarga, pekerjaan atau pendidikan, hingga persoalan hukum bila ada. Semua informasi ini penting karena dua pecandu dengan zat yang sama bisa memerlukan penanganan yang sangat berbeda.

Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium

Bagian dari asesmen adalah pemeriksaan medis. Dokter memeriksa tanda-tanda vital, kondisi organ, serta kemungkinan penyakit penyerta yang sering menyertai penyalahgunaan narkoba, seperti hepatitis atau infeksi lainnya. Tes laboratorium, termasuk tes urine, digunakan untuk memastikan jenis zat yang masih ada di dalam tubuh.

Hasil pemeriksaan fisik ini menentukan apakah pecandu memerlukan detoksifikasi medis terlebih dahulu. Pada kasus ketergantungan berat, penghentian zat secara mendadak tanpa pengawasan dokter bisa berbahaya.

Pemeriksaan Psikologis dan Diagnosis

Psikolog dan konselor adiksi kemudian menggali sisi kejiwaan: adakah gangguan kecemasan, depresi, trauma, atau gangguan kepribadian yang melatarbelakangi pemakaian. Tidak jarang narkoba dipakai sebagai upaya mengobati diri sendiri dari rasa sakit psikologis yang tidak tertangani. Di sinilah diagnosis dibuat, baik diagnosis tingkat keparahan adiksi maupun gangguan lain yang menyertainya.

Diagnosis yang tepat menjawab pertanyaan penting: apakah pecandu ini cukup ditangani rawat jalan, atau harus rawat inap? Apakah ia memerlukan terapi medis, terapi psikososial, atau keduanya?

Siapa yang Melakukan Asesmen

Asesmen dikerjakan oleh tim, bukan satu orang. Umumnya melibatkan dokter, perawat, psikolog, konselor adiksi, dan pekerja sosial. Masing-masing melihat dari sudut keahliannya, lalu hasilnya dibahas bersama untuk menyusun rencana terapi. Keluarga biasanya juga dimintai keterangan, karena merekalah yang paling tahu perubahan perilaku sehari-hari.

Menentukan Rencana Terapi

Muara dari asesmen awal dan diagnosis adalah rencana terapi individual. Pecandu ringan dengan dukungan keluarga kuat mungkin cukup menjalani konseling rawat jalan, sementara pecandu berat atau yang berulang kali kambuh memerlukan program rawat inap yang lebih intensif. Rencana ini pula yang akan dievaluasi berkala selama rehabilitasi berjalan.

Bagi keluarga, memahami tahapan ini membantu menurunkan kecemasan dan membangun kerja sama dengan para terapis. Asesmen yang jujur dan terbuka dari awal adalah fondasi bagi pemulihan yang sungguh-sungguh.

Baca Juga