Infeksi Hepatitis C pada Orang dengan Masalah Penyalahgunaan Narkoba
Di kalangan orang dengan masalah penyalahgunaan narkoba, ada ancaman yang jauh lebih sunyi dibanding overdosis, tetapi sama mematikannya: infeksi virus hepatitis C. Penyakit ini menyerang hati, berjalan bertahun-tahun nyaris tanpa gejala, dan sering baru diketahui ketika hati sudah rusak parah dalam bentuk sirosis atau bahkan kanker hati.
Data berbagai program layanan kesehatan menunjukkan angka hepatitis C yang sangat tinggi pada pemakai narkoba suntik. Di beberapa kota besar, lebih dari separuh pemakai suntik yang diperiksa ternyata positif pernah terpapar virus ini. Angka tersebut jauh melampaui populasi umum, sehingga kelompok ini memang harus mendapat perhatian khusus.
Mengapa Pemakai Narkoba Sangat Rentan
Virus hepatitis C menular terutama melalui darah. Pemakaian jarum suntik secara bergantian, sekalipun jarum terlihat bersih, adalah jalur penularan paling efisien karena sisa darah mikroskopis di dalam jarum langsung masuk ke pembuluh darah orang berikutnya. Risiko tidak berhenti di jarum: alat lain seperti wadah melarutkan, kapas saring, sampai uang gulung untuk menghirup serbuk juga dapat berpindah darah tanpa disadari.
Faktor lain yang memperberat adalah gaya hidup pemakai: gizi buruk, tidur tidak teratur, dan konsumsi alkohol mempercepat kerusakan hati yang sudah diinfeksi virus. Kombinasi hepatitis C dengan alkohol dan narkoba adalah resep menuju gagal hati dalam waktu jauh lebih singkat.
Infeksi hepatitis C pada kelompok ini juga kerap datang bersama risiko lain, terutama HIV, karena keduanya menular lewat jalur yang sama. Itulah mengapa layanan kesehatan untuk pemakai narkoba biasanya menawarkan pemeriksaan keduanya sekaligus. Mengetahui status sejak dini membuat pengobatan jauh lebih mudah dan harapan hidup jauh lebih panjang.
Penyakit yang Sering Terlambat Ketahuan
Masalah terbesar hepatitis C adalah sifatnya yang diam. Fase akut hampir tidak bergejala, paling hanya lemas dan pegal yang mudah diabaikan. Selama sepuluh sampai dua puluh tahun berikutnya virus bekerja perlahan menggerogoti hati. Gejala baru muncul ketika kerusakan sudah lanjut: badan kuning, perut membesar karena cairan, mudah berdarah, dan bengkak pada kaki.
Pada pecandu, keterlambatan ini makin parah karena sebagian besar enggan atau takut memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Stigma membuat mereka menghindar sampai sakitnya berat, padahal pemeriksaan hepatitis C kini sederhana, cukup dengan tes darah.
Pencegahan dan Pengobatan
Prinsip pertama pencegahan tentu berhenti total dari narkoba suntik melalui rehabilitasi. Selama seseorang belum mampu berhenti, pendekatan pengurangan dampak buruk menjadi penting: tidak pernah berbagi alat suntik, menggunakan jarum steril setiap kali, dan memeriksakan diri secara berkala. Pendekatan ini bukan melegalkan narkoba, melainkan menjaga agar seorang pecandu tetap hidup sampai ia siap sembuh.
Berita baiknya, pengobatan hepatitis C saat ini sangat maju. Obat antivirus langsung dapat menyembuhkan lebih dari 95 persen kasus dalam waktu sekitar tiga bulan, dan pengobatan tetap efektif bagi mereka yang sedang menjalani terapi pemulihan narkoba. Kuncinya satu: mau diperiksa dan mau diobati.
Bagi keluarga yang memiliki kerabat dengan riwayat narkoba suntik, doronglah ia memeriksakan hati tanpa menghakimi. Hepatitis C bisa disembuhkan, kecanduan bisa dipulihkan, tetapi keduanya hanya mungkin terjadi bila dimulai dari keberanian untuk menghadapi kenyataan.