Gangguan Menstruasi pada Penyalahgunaan Narkoba
Bagi wanita, siklus menstruasi yang teratur adalah penanda penting bahwa sistem hormon tubuh bekerja normal. Pada wanita yang menyalahgunakan narkoba, penanda ini sering kali berantakan: haid datang tidak menentu, sangat singkat, atau bahkan berhenti berbulan-bulan. Sayangnya gejala ini jarang disadari sebagai akibat narkoba dan sering baru ketahuan saat pemeriksaan lain.
Gangguan menstruasi pada penyalahguna narkoba bukan kebetulan. Hampir semua zat adiktif mempengaruhi poros hipotalamus-hipofisis-ovarium, jalur hormon yang mengatur ovulasi dan haid. Ketika jalur ini kacau, seluruh siklus ikut kacau.
Bagaimana Narkoba Mengacaukan Siklus Haid
Opioid seperti heroin, putau, dan morfin adalah biang keladi paling jelas. Zat ini menekan pelepasan hormon GnRH di hipotalamus, sehingga hormon LH dan FSH yang memicu ovulasi ikut anjlok. Akibatnya sel telur tidak matang, ovulasi tidak terjadi, dan haid berhenti. Kondisi ini disebut amenore, dan pada pemakai opioid kronis kejadiannya sangat umum.
Karena itu gangguan haid pada pecandu wanita sebaiknya tidak dibiarkan. Pemeriksaan sederhana di puskesmas atau dokter kandungan, mulai dari tes hormon sampai ultrasonografi, dapat memetakan seberapa jauh gangguannya. Semakin cepat pemakaian zat dihentikan, semakin besar peluang siklus kembali normal tanpa pengobatan hormon tambahan.
Stimulan seperti sabu dan ekstasi bekerja lewat jalan lain: menekan nafsu makan sampai berat badan turun drastis. Tubuh yang kekurangan gizi dan lemak tubuh akan menghentikan ovulasi karena dianggap tidak siap untuk kehamilan. Ditambah stres berkepanjangan dan tidur yang berantakan, siklus haid pemakai stimulan nyaris selalu tidak teratur.
Ganja dan kokain pun tidak bebas dari dampak. Keduanya mengganggu kadar hormon prolaktin dan progesteron, menyebabkan haid maju-mundur, nyeri haid yang lebih berat, dan kesulitan hamil meski siklus terlihat masih ada.
Lebih dari Sekadar Haid Tidak Teratur
Gangguan menstruasi adalah permukaan dari masalah yang lebih dalam. Ovulasi yang berhenti berarti kesuburan menurun tajam. Kadar estrogen yang rendah dalam waktu lama juga menggerogoti kepadatan tulang, membuat wanita muda pemakai narkoba berisiko osteoporosis dini, ditambah kulit menua lebih cepat dan gairah seksual menurun.
Ada pula risiko yang jarang dipikirkan: karena haid tidak teratur, banyak pecandu wanita tidak menyadari dirinya hamil sampai usia kandungan cukup besar. Selama itu janin terus terpapar zat adiktif beserta pola hidup yang tidak sehat, sehingga risiko cacat lahir dan keguguran meningkat.
Bagi keluarga, informasi ini penting sebagai salah satu cara mengenali masalah tanpa harus menuduh. Perubahan siklus haid yang disertai berat badan turun drastis, mata cekung, dan perubahan pergaulan layak ditindaklanjuti dengan pendekatan yang lembut tetapi tegas, bukan dengan amarah.
Bisakah Kembali Normal
Kabar baiknya, sebagian besar gangguan ini bersifat reversibel. Pada wanita yang berhenti memakai dan menjalani rehabilitasi, siklus haid biasanya kembali teratur dalam beberapa bulan sampai satu tahun, seiring membaiknya berat badan, pola tidur, dan keseimbangan hormon. Pada pemakaian opioid, terapi pengganti yang terkontrol secara medis justru sering membuat siklus lebih stabil dibanding saat masih memakai putau.
Jika ada anggota keluarga atau kerabat wanita yang mengalami perubahan drastis pada siklus haid disertai perubahan perilaku, jangan langsung berprasangka buruk, tetapi jangan pula mengabaikannya. Ajak berbicara dengan hangat dan arahkan ke tenaga kesehatan. Tubuh selalu memberi sinyal, dan siklus haid adalah salah satu sinyal paling jujur.