Jauhi Narkoba

Pusat Informasi Artikel, Makalah, dan Terapi Seputar Dampak & Jenis Narkoba

Disfungsional Family dan Narkoba

Dipublikasikan 10 September 2016 · Kategori: Informasi Narkoba

Tidak ada anak yang lahir dengan keinginan menjadi pecandu. Banyak jalan menuju narkoba, dan salah satu yang paling sering ditemui para konselor adalah keluarga yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, atau dalam istilah psikologi disebut disfungsional family. Memahami hubungan keduanya penting, karena pencegahan narkoba yang paling awal justru dimulai dari rumah.

Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar mengelola emosi, menyelesaikan masalah, dan merasakan rasa aman. Ketika fungsi-fungsi dasar ini gagal berjalan, anak dan remaja akan mencari pelarian di luar rumah, dan narkoba sering kali menawarkan jalan keluar palsu yang terasa nyaman.

Apa Itu Keluarga Disfungsional

Keluarga disfungsional bukan berarti keluarga miskin atau tidak lengkap. Sebuah keluarga disebut disfungsional ketika pola interaksinya justru melukai anggotanya. Ciri-cirinya antara lain komunikasi yang buruk, orang tua yang otoriter atau sebaliknya terlalu membebaskan, kekerasan fisik maupun verbal, konflik suami istri yang terus-menerus di depan anak, serta ketiadaan perhatian dan kasih sayang yang nyata.

Pecandu atau peminum berat di dalam keluarga juga menciptakan disfungsi. Anak yang tumbuh melihat orang tuanya mabuk atau memakai narkoba menganggap perilaku itu biasa, sekaligus kehilangan sosok pelindung yang seharusnya menjadi benteng pertamanya.

Lingkaran Setan yang Sulit Diputus

Lingkungan di luar rumah memang ikut berperan, tetapi penelitian demi penelitian menunjukkan anak dari keluarga yang hangat dan komunikatif jauh lebih kebal terhadap tawaran narkoba, bahkan ketika ia tinggal di lingkungan rawan. Sebaliknya, anak dari keluarga disfungsional tetap rentan meski bersekolah di tempat yang baik. Rumah selalu menjadi variabel penentu.

Dari keluarga seperti ini, anak membawa luka batin: rasa tidak berharga, cemas, marah, dan kesepian. Di pergaulan, luka itu membuatnya mudah tergoda tawaran narkoba karena zat itu sesaat menghilangkan rasa sakit emosional. Setelah terjerat, perilaku pecandu balik merusak keluarganya: mencuri di rumah, berbohong, dan memicu konflik baru.

Maka terjadilah lingkaran setan. Keluarga yang disfungsional melahirkan pecandu, dan pecandu membuat keluarga makin disfungsional. Tidak jarang adik atau anak dari pecandu kemudian mengikuti jejak yang sama karena pola di rumah tidak pernah diperbaiki.

Perubahan tidak harus besar dan langsung sempurna. Makan malam bersama tanpa ponsel, bertanya kabar anak dengan sungguh-sungguh, dan menahan diri dari pertengkaran di depan anak adalah langkah kecil yang bila dilakukan konsisten akan mengubah iklim rumah secara nyata.

Memutus Rantai Disfungsi

Kabar baiknya, lingkaran ini bisa diputus. Langkah pertama adalah keberanian mengakui bahwa ada masalah di dalam keluarga, bukan hanya pada anak yang memakai narkoba. Terapi keluarga (family therapy) menjadi bagian penting rehabilitasi modern karena kesembuhan pecandu sangat ditentukan oleh kondisi rumah yang akan menerimanya kembali.

Orang tua perlu belajar berkomunikasi tanpa menghakimi, menetapkan batas yang jelas tetapi tetap penuh kasih, dan hadir secara emosional bagi anak. Bagi keluarga yang sudah terlanjur menghadapi anggota pecandu, jangan hanya fokus menyembuhkan si pecandu; perbaiki juga cara seluruh anggota berinteraksi, kalau perlu dengan bantuan konselor.

Narkoba memang merusak dari dalam tubuh, tetapi sering kali bibitnya ditanam oleh suasana rumah. Membangun keluarga yang hangat, terbuka, dan saling mendukung adalah benteng anti-narkoba yang paling murah sekaligus paling kuat.

Baca Juga