Jauhi Narkoba

Pusat Informasi Artikel, Makalah, dan Terapi Seputar Dampak & Jenis Narkoba

Dampak Narkoba terhadap Kesehatan Reproduksi

Dipublikasikan 8 September 2016 · Kategori: Informasi Narkoba

Selama ini pembicaraan tentang bahaya narkoba biasanya berputar pada kerusakan otak, jantung, dan kehidupan sosial pecandu. Padahal ada satu korban lain yang jarang dibahas padahal dampaknya sangat serius, yaitu sistem reproduksi. Zat-zat adiktif seperti ganja, sabu, heroin, dan ekstasi bekerja langsung mengacaukan keseimbangan hormon yang mengatur kesuburan, baik pada pria maupun wanita.

Sistem reproduksi manusia dikendalikan oleh poros hormon yang sangat peka, mulai dari hipotalamus, kelenjar pituitari, sampai organ reproduksi itu sendiri. Narkoba mengganggu poros ini di banyak titik. Akibatnya, produksi hormon testosteron dan estrogen menjadi tidak stabil, dan dari sinilah berbagai gangguan kesuburan bermula.

Dampak pada Kesuburan Pria

Pada pria, penggunaan ganja dalam jangka panjang terbukti menurunkan jumlah sperma, mengurangi pergerakan (motilitas) sperma, dan memperbanyak sperma berbentuk abnormal. Sabu dan amfetamin lain menekan produksi testosteron sehingga gairah seksual menurun drastis dan bisa muncul disfungsi ereksi meski usia masih muda.

Faktor gaya hidup pecandu memperberat semua itu. Merokok, minum alkohol, begadang, dan pola makan seadanya sama-sama menekan kualitas sperma dan sel telur. Jadi kerusakan reproduksi pada pecandu hampir tidak pernah disebabkan satu zat saja, melainkan kombinasi zat adiktif dan tubuh yang tidak terawat.

Opioid seperti heroin dan putau bahkan lebih merusak lagi. Pemakaian kronis dapat mengecilkan testis dan menghentikan produksi sperma hampir sepenuhnya. Banyak mantan pecandu opioid yang baru bisa memiliki keturunan setelah bertahun-tahun bersih, dan sebagian harus dibantu program bayi tabung.

Dampak pada Kesuburan Wanita

Pada wanita, narkoba mengacaukan siklus menstruasi. Pemakai heroin dan putau sering mengalami haid tidak teratur atau bahkan berhenti sama sekali (amenore) karena ovulasi terganggu. Ganja dan kokain mengurangi kualitas sel telur dan mempersulit penempelan embrio di rahim, sehingga risiko keguguran meningkat tajam.

Yang sering tidak disadari, gangguan ini bisa bertahan lama setelah seseorang berhenti memakai. Tubuh membutuhkan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun untuk mengembalikan keseimbangan hormon, apalagi jika pemakaian sudah berlangsung lama dan sejak usia remaja ketika sistem reproduksi masih berkembang.

Bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, riwayat pemakaian narkoba sebaiknya disampaikan jujur kepada dokter. Dengan informasi itu dokter bisa memeriksa kualitas sperma atau fungsi ovulasi lebih awal dan menyusun langkah pemulihan yang tepat sebelum program hamil dimulai.

Bahaya bagi Kehamilan dan Janin

Bila seorang wanita hamil dalam kondisi masih memakai narkoba, janin ikut menanggung akibatnya. Zat adiktif menembus plasenta dan mengganggu perkembangan otak serta organ janin. Bayi yang lahir dari ibu pecandu opioid dapat mengalami gejala putus zat sejak lahir, disebut neonatal abstinence syndrome: tangisan melengking terus-menerus, kejang, dan sulit menyusu.

Risiko lainnya adalah kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, cacat bawaan, sampai kematian bayi mendadak. Inilah mengapa program rehabilitasi untuk wanita usia subur selalu menyertakan konseling kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.

Kabar baiknya, sebagian besar kerusakan ini bisa dipulihkan bila pemakaian dihentikan sedini mungkin dan ditangani secara medis. Menjaga kesehatan reproduksi adalah satu lagi alasan kuat untuk menjauhi narkoba sejak awal, atau segera mencari bantuan rehabilitasi bagi yang sudah terlanjur terjerat.

Baca Juga