Mitos dan Fakta Adiksi Narkotika

Informasi mengenai narkotika di masyarakat banyak diselimuti oleh mitos (anggapan yang keliru) yang sudah menjadi kepercayaan masyarakat, sehingga fakta-fakta menjadi terabaikan. Hal tersebut membuat munculnya stigma (cap buruk) dalam masyarakat yang memunculkan diskriminasi terhadap pengguna narkotika. Apalagi di dalam masyarakat, narkotika sering dikaitkan dengan agama dan nilai-nilai moral. Pengguna narkotika diasumsikan menggunakan barang haram sehingga melanggar aturan agama dan nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat. Ditambah lagi narkotika selalu berkaitan dengan hal-hal negatif seperti minuman keras, seks bebas, agresivitas, serta berbagai macam penyakit misalnya HIV-AIDS. Penggunaan narkotika pasti menimbulkan perilaku adiksi (ketergantungan) terhadap narkotika.

Adiksi awalnya disebabkan karena adanya keinginan untuk mencoba.Hal tersebut disebabkan karena mereka menganggap sekali mencoba gak bakal ketagihan. Berbeda dengan kenyataan dimana ketika seseorang sekali mencoba akan ketagihan, sekali ketagihan efeknya terhadap kejiwaan tidak akan hilang seumur hidup. Kesimpulannya, sekali mencoba akibatnya bisa terbelenggu seumur hidup. Jalan terbaik adalah tidak mencoba sama sekali. Salah satunya tentang kepercayaan di masyarakat bahwa adiksi adalah kebiasaan buruk yang disebabkan karena kelemahan moral dan memanjakan diri sendiri. Faktanya adalah adiksi merupakan kondisi yang kronik dan mengancam nyawa, seperti hipertensi dan diabetes. Selain itu, orang yang paling rentan mengalami ketergantungan pada alkohol dan narkotika hanya orang yang jahat, bodoh, dan gila. Kenyataannya adiksi tidak pandang bulu dan tidak mendiskriminasi pada orang-orang tertentu saja, namun adiksi dapat menyerang individu dari semua kelompok etnik, sosio-ekonomi, orang yang pandai atau tidak, serta orang yang sehat atau tidak.

Persepsi orang awam mengenai efek narkotika yang dapat menolong kita untuk dapat melupakan masalah dan lebih menikmati hidup. Persepsi tersebut salah besar karena pecandu tidak bisa berfungsi secara normal didalam masyarakat. Narkotika akan mengacaukan perasaan sehingga pecandu tidak mampu bergaul secara normal didalam keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Narkotika membuat kita melupakan masalah hanya untuk sementara waktu. Namun, masalah tetap ada didalam diri kita. Justru narkotika yang merusak pikiran, kerja otak, dan organ tubuh, seperti jantung, hati, ginjal, dan paru-paru. Resiko terjadinya penyakit akan meningkat. Narkotika juga membuat pecandu mengalami reterdasi psikomotorik yang ditandai dengan tubuh yang menjadi lemah, lesu, dan tidak bertenaga. Selain itu, menimbulkan gangguan emosional sehingga mudah marah dan agresif.Banyak masalah yang disebabkan oleh narkotika yang membuat pecandu dapat masuk penjara. Narkotika tidak memecahkan masalah tetapi malah menambah masalah.

Banyak orang yang berpikir bahwa perawatan tidak menunjukkan hasil karena banyak orang yang relapse (kekambuhan). Kenyataannya perawatan adiksi seperti halnya perawatan medis lainnya yang tidak menjamin pemulihan seumur hidup. Relapse kerap menjadi bagian dari proses pemulihan dan selalu mungkin terjadi, namun tetap dapat dirawat. Perawatan adiksi sudah mencapai batasan tertinggi dan sudah tidak ada yang dapat dilakukan.Padahal semakin banyak yang hal yang dipelajari tentang adiksi, maka semakin efektif perawatan yang kita berikan.Penyedia layanan harus selalu ditantang untuk memperluas basis pengetahuannya dan menemukan pendekatan yang lebih efektif untuk mencegah, mengintervensi, dan merawat pecandu narkotika (Nur Fitriyani H, S. Psi & Resa W., S. Psi)

Advertisements

Melepas Lingkaran Adiksi Dengan Lingkaran “Mandala”

Adiksi menjadi suatu hal yang tidak asing lagi untuk didengar di sekeliling kita dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Bahkan, banyak perilaku yang tidak pernah diduga sebelumnya termasuk dalam perilaku adiksi.Berbagai macam metode telah dikembangkan untuk mengatasi hal ini, baik dari bidang medis maupun sosial. Semua pendekatan akan menjadi lebih maksimal ketika terjadi kolaborasi antar masing-masing pen-dekatan. Salah satu pendekatan dalam psikologi yang mulai sering digunakan untuk melepas pola-pola adiksi adalah dengan art therapy atau terapi seni, dimana salah satu media seni yang cukup sering digunakan adalah terapi mandala.

Seperti yang ditulis oleh Harvey Milkman and Stanley Sunderwirth dalamCraving for Ecstasy: The Consciousness & Chemistry of Escape (1988), perilaku adiksi sangat dipengaruhi oleh harapan pecanduakan perubahaan mood atau emosi tertentu. Seseorang dengan adiksi akan mengalami dorongan atau fantasi yang umumnya menyebabkan perasaan bahagia, aman, tenang dan perasaan mampu menghadapi apapun. Padahal, efek samping dari semua perasaan tersebut memungkinkan seorang addict mengalami ketakutan akan ketidakberdayaan dirinya yang akhirnya mengarahkan mereka pada perasaan sedih dan putus asa. Berdasarkan hal tersebut, jelas sekali terlihat bahwa adiksi sangat berkaitan erat dengan mood ataupun emosi seseorang.

Hal inilah yang akhirnya menjadikan terapi mandala bermanfaat untuk memutus lingkaran adiksi, di mana sejak awal ditemukannya terapi mandala sering digunakan untuk mengurangi salah satu emosi negatif, yaitu kecemasan.Dalam jurnal Form and Boundaries of Art with Aesthetic Cognition in Art Therapy (2014),dijelaskan bahwa terapi mandala memiliki fungsi menenangkan dan merilekskan. Terapi yang memiliki makna lingkaran ini, terdiri dari beragam motif yang nantinya klien akan diminta untuk mewarnai pola-pola tersebut sesuai dengan keinginannya. Menurut filosofinya, terapi ini banyak memperhatikan komposisi pola detail yang dikombinasikan dengan unsur alam.Maka dari itu secara tidak langsung terapi ini berdampak positif untuk perkembangan klien terutama perkembangan jiwa.

Ketika seseorang menyelesaikan mandala, maka kondisi tersebut menyerupai meditasi dengan kesadaran penuh. Proses tersebut akan menjadikan individu fokus pada satu tujuan dan menghindari keinginan-keinginan yang tidak seharusnya. Pada kasus adiksi, fokus menjadi hal utama dalam proses pemulihan dan rehabilitasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Capital University, penggunaan mandala sebagai media terapi akan memfasilitasi munculnya kesadaran diri yang jika dilakukan secara berkelanjutan akan memunculkan pengetahuan dan pemaknaan baru bagi individu. Selain itu, klien dengan adiksi akan mampu mengeskpresikan emosi, pikiran, harapan serta ketakutannya dengan lebih baik, sehingga secara tidak langsung menurunkan kecemasan dan stres yang dirasakan oleh klien.

Dengan adanya peningkatan kesadaran dan penurunan kecemasan yang dialami klien adiksi, terapi mandala dapat memfasilitasi klien untuk terhindar dari kondisi yang paling dikhawatirkan, yaitu kekambuhan kembali (relaps).Terapi mandala dapat membantu klien mengamati hasil kerjanya dengan cara menganalisis dan merefleksikan kembali apa yang telah mereka perbuat. Ini adalah bentuk strategi penyelesaian masalah klien untuk tetap berfokus pada tujuan positif diantara pilihan negatif lainnya. Di Balai Besar Rehabilitasi Narkotika Nasional (BNN), terapi mandala merupakan salah satu terapi yang sudah cukup sering digunakan. Hasil pengamatan dan wawancara dengan residen di BNN menunjukkan hasil bahwa perasaan nyaman dan emosi stabil yang dirasakan klien dapat menumbuhkan pemahaman-pemahaman baru terkait dengan perilaku adiksi sehingga mereka dapat lebih mudah dalam berpikir serta menentukan pilihan yang terbaik untuk diri dan lingkungannya. (Made Padma Dewi Bajirani S.Psi.& Virda Mutiara, S.Psi.)

EKSTASI (Inex, enak, cui iin, flash, dolar, flipper, hammer)

Definisi

  1. Ekstasi adalah suatu zat yang bersifat stimulan yang merupakan analogis dari amfetamin (Goldman, 1994).
  2. Ekstasi sesuatu yang melebihi kontrol tubuh dan emosi seseorang.
  3. secara kimia, ekstasi merupakan suatu sintetik yang analogis dengan amfetamin C11H15NO2 yang digunakan untuk meningkatkan mood seseorang dan halusinasi ( Merriam-Webster Dictionary).

Cara Kerja Ekstasi

Ekstasi merupakan derivat amfetamin yang dikenal sebagai 3,4–methylenedioxymethamphetamine (MDA).

Ekstasi merangsang pelepasan katekolamin dari presinaps. Ekstasi bersifat selektif terhadap neuron serotonin yang menyebabkan pelepasan serotonin yang banyak dan menghambati reuptake serotonin pada presinaps dengan reversal dari fungsi serotonin transporter (SERT). Maka, lebih banyak serotonin yang berkumpul di ruang sinaps ( Hahn, 2009 ).

Gejala

Gejala – gejala pada pemakaian ekstasi, adalah :

  1. Rasa senang meningkat
  2. Empati meningkat
  3. Mudah bergaul / bersosialisasi
  4. Hilang rasa minder

Efek samping

Efek samping akibat pemakaian ekstasi adalah

  1. Gangguan pada kardiovaskuler, yaitu peningkatan tekanan darah.
  2. Gangguan pada psikologis, seperti ansietas (rasa cemas berlebihan ), depresi ringan dan paranoia (mudah curiga).
  3. Gangguan pada pola tidur.
  4. Penurunan memori ( daya ingat cepat dan daya ingat segera )
  5. Hipertermia
  6. Berkurangnya selera makan
  7. Mudah dahaga
  8. Sulit berkonsentrasi
  9. Peningkatan keringat
  10. Mulut terasa kering Penghentian ekstasi secara tiba – tiba dapat menimbulkan withdrawal syndrome yang ditandai dengan depresi yang terjadi sehingga beberapa minggu. Selain itu, dilaporkan juga terjadinya aggresifitas ( Katzung,2007 ).

Tahapan Rehabilitasi : Asesmen Awal dan Diagnosis

Untuk menentukan besar masalah yang ada pada individu, diperlukan suatu asesmen klinik secara lengkap, dimana hasil asesmen ini merupakan dasar untuk menentukan diagnosis serta intervensi atau rencana terapi yang sesuai untuk individu yang bersangkutan. Secara umum asesmen dapat digambarkan sebagai suatu proses mendapatkan informasi tentang klien secara komprehensif, baik pada saat klien memulai program, selama menjalani program, hingga selesai mengikuti program. Informasi tentang klien pada umumnya dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu observasi, wawancara, serta pemeriksaan medik.

Dalam menentukan diagnosis gangguan penggunaan narkotika ada dua langkah yang bisa dilakukan, yang pertama adalah skrining dengan menggunakan instrumen tertentu.Tujuan skrining ini hanya untuk mendapatkan informasi adakah suatu faktor resiko dan atau masalah yang terkait dengan penggunaan narkotika. Berbagai instrumen skrining dan asesmen yang dapat digunakan dalam menggali permasalahan terkait gangguan penggunaan narkotika telah dikembangkan secara global, baik yang diinisiasi oleh lembaga-lembaga penelitian di negara maju, maupun badan-badan dunia khususnya WHO. Beberapa instrumen yang mengakomodasi penggunaan berbagai jenis narkotika antara lain :

  1. ASSIST (Alcohol,Smoking, Substance Use Involvement Screening & Testing),
  2. DAST 10 (Drug Abuse Screening Test), dan
  3. ASI (Addiction Severity Index). Penerapan atas instrumen tertentu biasanya dikaitkan dengan penggunaan instrumen tersebut pada berbagai negara.

Penyakit kecanduan (adiksi) adalah suatu penyakit otak, dimana zat aktif mempengaruhi area pengaturan prilaku. Sebagai akibatnya, gejala dan tanda utama dari penyakit adiksi adalah prilaku. Berbeda dengan kebanyakan penyakit lainnya, pada adiksi, aspek yang terpengaruh karena kondisi adiksi memiliki rentang yang luas, mulai dari citra diri, hubungan interpersonal, kondisi finansial, aspek hukum, sekolah/pekerjaan, sampai dengan kesehatan fisik. Melihat kompleksitas yang dihasilkan dari kondisi adiksi, itu sebabnya mengapa proses asesmen merupakan aspek penting dari pendekatan penyakit adiksi. Asesmen yang berkualitas menghubungkan diagnosis dengan penatalaksanaan awal, memastikan akurasi diagnosis awal, dan mengidentifikasi jenis terapi dan rehabilitasi yang paling efisien dan efektif. Untuk mendapatkan gambaran klinis dan masalah yang lebih mendalam dilakukanlah asesmen klinis.

 Ada beberapa alat yang umumnya digunakan untuk dapat mengenali keterlibatan seseorang pada narkotika :

  1. Instrumen skrining seperti ASSIST
  2. Urin analisis
  3. Kajian resep / obat-obatan yang diminum klien sebelumnya

Hal yang harus diperhatikan adalah penemuan kasus melalui alat skrining di atas perlu dilanjutkan dengan proses asesmen sehingga diperoleh gambaran klinis yang komperhensif. Urinanalisis merupakan alat skrining yang paling sering digunakan, tidak saja oleh petugas kesehatan tetapi terutama oleh penegak hukum. Terjadi pemahaman yang keliru pada banyakpetugas, khususnya penegak hukum bahwa urinanalisis dapat menjadi alat penegak diagnosis. Urin analisis yang dilakukan tanpa disertai wawancara/instrumen skrining tentang riwayat penggunaan narkotika termasuk obat-obatan resep dokter, dapat menimbulkan salah diagnosis. Urin analisis hanya merupakan skrining awal yang penting untuk mendeteksi penggunaan natkotika dalam kondisi akut. Hasil urinanalisis dapat sulit diinterpretasikan karena sering hanya mendeteksi penggunaan yang baru saja dan tidak mudah untuk membedakan antara penggunaan legal atau tidak legal.

Yang perlu diperhatikan dalam tes skrining narkotika secara biologi :

  1. Tes skrining cara biologi mempunyai jangka waktu skrining yang berbeda-beda. Sebagai contoh:
    1. Suatu tes skrining urin atau air liur yang positif untuk kokain dan atau heroin cendrung untuk mengindikasikan penggunaan yang baru-baru saja terjadi (beberapa hari atau satu minggu ke belakang), sedangkan hasil yang positif untuk marijuana (ganja) dapat mendeteksi penggunaan marijuana pada satu bulan sampai beberapa bulan ke belakang.
    2. Hampir tidak mungkin untuk menentukan waktu penggunaan bila sampel didapat dari rambut.
  2. Tidak ada satu tes skrining narkotika secara biologi dapat mendeteksi semua obat-obatan yang sering disalahgunakan, contohnya MDMA, metadon, pentanil, dan opoid sintetik lainnya tidak termasuk ke dalam banyak tes skrining narkotika, dan tes-tes ini harus diminta secara terpisah;
  3. Tes skrining narkotika secara biologi memeriksa konsentrasi obat pada nilai ambang spesifik dari suatu sampel. Demikian, suatu hasil negatif tidak selalu berarti tidak terjadi penyalahgunaan obat, dan suatu hasil positif dapat mencerminkan penggunaan zat yang lain;
  4. Bila dikhawatirkan terjadi usaha pengelabuhan hasil, sampel harus dimonitor untuk temperatur atau bahan-bahan campuran serta program harus diterapkan dan diikuti prosedur pendokumentasian secara kronologi yang akurat.

Langkah-langkah asesmen klinis :

       a. Asesmen awal

Asesmen awal yaitu, asesmen yang dilakukan pada saat klien berada pada tahap awal rehabilitasi, umumnya dilakukan pada dua sampai empat minggu pertama. Asesmen awal umumnya dapat diselesaikan dalam dua sampai tiga minggu pertemuan. Pada beberapa pasien dengan kondisi fisik baik dan sikap yang kooperatif, asesmen bahkan dapat diselesaikan dalam sekali pertemuan.

b. Rencana terapi

Pada sebagian besar klien, terapi yang dibutuhkan umumnya berkait dengan terapi rehabilitasi masalah penggunaan narkoba. Namun mereka juga membutuhkan terapi-terapi terkait lainya, seperti misalnya konseling keluarga, pelatihan vokasional, pelatihan menjadi orang tua yang efektif, dan lain-lain.

c. Asesmen lanjutan

Asesmen bagi klien tidak hanya dilakukan pada saat masuk program terapi rehabilitasi, namun perlu diulang pada kurun waktu selama dia berada dalam program dan ketika yang bersangkutan selesai mengikuti program. Hal ini bertujuan untuk :

  1. Melihat kemajuan yang terjadipada diri klien.
  2. Mengkaji isu-isu terkini yang menjadi masalah bagi klien dan informasi baru yang diperoleh selam klien menjalani proses terapi.
  3. Melakukan kajian atas rencana terapi dan melakukan penyesuaian rencana terapi.

Penegakkan diagnosis merupakan suatu proses yang menjadi dasar dalam menentukkan rencana terapi selanjutnya. Beberapa prinsip dalam menegakkan diagnosis bagi pengguna narkotika, antara lain:

  1. Diagnosis tidak selalu dapat diperoleh pada asesmen awal.
  2. Diperlukan informasi tambahan dari keluarga atau orang yang mengantar
  3. Yakinkan klien dalam kondisi sadar penuh, tidak di bawah pengaruh narkotika, sehingga tidak mengacaukan informasi yang diperoleh.
  4. Diagnosis bisa saja berubah setelah dilakukan pemeriksaan atau asesmen ulang, misalkan adanya dual diagnosis yang belum terlihat pada asesmen awal.

Komorbiditas atau lebih dikenal sebagai dual diagnosis adalah diagnosis dari dua atau lebih gangguan psikiatri pada satu klien. Komorbiditas yang paling sering terjadi mengenai penyalahgunaan dua macam zat, misalnya alkohol dan zat lainnya. Diagnosis psikiatrik lainnya yang pada umumnya ditemukan pada penyalahguna zat adalah gangguan kepribadian antisosial, fobia (dan ganghuan cemas lainnya), gangguan depresi berat, dan gangguan distimia. Hubungan antara penyalahguna narkotika dengan ganghuan kepribadian atau mood atau gangguan ce,as pada orang dewasa dan gangguan pemusatan perhatian dan gangguan mood pada remaja merupakan hal yang sering terjadi. ( dr.Fitri )

Sumber:

Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kementrian Kesehatan (2013), Modul Asesmen Dan Rencana Terapi Gangguan Penggunaan Napza Edisi Revisi 2013.

Badan Narkotika Naional (2012), Petunjuk Teknis Rehabilitasi Non Komunitas Teraputik Komponen Masyarakat.

National Institute on Drug Abuse (2010), Screening For Drug Use in General Medical Setting Resoures Guide.

Kondisi Psikologis Remaja yang Rentan Terhadap Penyalahgunaan Narkoba

Mayoritas penyalah guna narkoba memulai konsumsi narkoba di usia remaja. Apa sebenarnya yang membuat remaja rentan terhadap penyalah-gunaan narkoba? Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia menjelaskan mengenai beberapa aspek dari kondisi psikologis remaja yang membuat remaja rentan terhadap penyalahgunaan narkoba, sebagai berikut :

1. Jiwa remaja yang masih labil.

Jiwa remaja yang masih labil, mudah dipengaruhi dan diiming-imingi oleh kenikmatan semu tanpa memikirkan akibatnya di masa depan. Hal itu terjadi karena remaja sedang berada dalam masa pencarian jati diri, yaitu mencari siapa dirinya dan apa yang seharusnya ia perbuat sebagai individu.

 

2. Dorongan kuat untuk mencoba hal-hal baru.
Dalam proses pencarian jati diri, remaja akan melakukan eksplorasi diri dengan mencoba segala hal baru atau petualangan hidup, seperti kehidupan seks dan penggunaan narkoba.

3. Rasa ingin tahu yang tinggi.
Kalau di masa kanak – kanak, keingintahuan terhadap sesuatu diatasi dengan pelontaran berbagai pertanyaan kepada orang dewasa, maka remaja akan lebih tertarik untuk mencari tahu sendiri jawabannya dan mencoba secara langsung.

4. Jiwa remaja penuh gejolak pemberontakan.
Gejolak tersebut adalah gejolak ingin mendapatkan pengakuan bagi keberadaan dirinya. Ia juga ingin mendapatkan kepercayaan dan tanggung jawab, berprestasi, menunjukkan keberanian, menonjolkan diri, mendapatkan penghargaan, kebebasan, dan kemandirian. Remaja juga cenderung menunjukkan pemberontakan pada kekuasaan otoritas seperti orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya serta nilai, norma dan aturan yang berlaku yang dianggap mengekang.

5. Pengaruh kuat kelompok pergaulan.
Hal yang paling terlihat sekali di masa remaja yaitu terbentuknya kelompok-kelompok pergaulan teman sebaya (peer) yang ditandai oleh kekompakan, kesetiaan, dan solidaritas yang tinggi pada kelompok-nya. Kepatuhan kepada teman sebayanya bahkan mengalahkan kepatuhan remaja kepada orangtua. Solidaritas terhadap peer sebenarnya dapat menjadi hal yang positif bagi pengembangan kepribadian, penemuan identitas diri, peningkatan self esteem, dan pengembangan kepekaan dan ketrampilan sosial selama peer remaja adalah peer yang positif, bukan justru destruktif.

6. Tekanan dari orangtua dan lingkungan yang kurang memahami remaja.
Gejolak pemberontakan remaja seringkali diper-parah oleh sikap dan perlakuan orangtua dan lingkungan yang tidak memahami mereka. Orangtua yang memandang anak adalah sepenuhnya miliknya yang harus dijaga, dilindungi, diarahkan sesuai aturan yang dianggap baik oleh orangtua. Orangtua tersebut justru akan semakin berusaha menekan dan meng-hukum jika perilaku anaknya tidak sesuai dengan harapannya. Dampaknya adalah remaja justru akan lari dan semakin kuat menggabungkan diri pada teman-teman yang lebih memahami keinginannya. Jika teman-teman yang ia temui adalah pecandu narkoba aktif maka ia akan terbawa ke lingkungan yang salah.

7. Rasa frustasi karena tidak terpenuhinya kebutuhan.
Setiap orang memiliki kebutuhan termasuk remaja. Kebutuhan akan rasa aman, harga diri, dan juga eksistensi diri. Remaja mudah sekali terpengaruh lingkungan pergaulan ataupun media massa yang membuat mereka ingin menirunya. Jika keadaan atau lingkungan membuat remaja tidak mendapatkan apa yang diinginkan akan menimbulkan perasaan tertekan yang dapat memicu pelarian seperti penyalahgunaan narkoba.

Hal-hal di atas hendaknya dipahami oleh remaja maupun orang dewasa (terutama orangtua) sehingga dapat lebih melihat permasalahan yang muncul di masa remaja secara lebih mendalam dan konstruktif. Memahami remaja bukan berarti membiarkan mereka ‘terjun bebas’ dalam pergaulan dan mengikuti semua keinginan remaja, tetapi lebih kepada memberikan kepercayaan kepada mereka disertai tanggung jawab dan pengawasan secara terus-menerus tanpa harus bersikap protektif dan mengontrol secara berlebihan.

Apa yang Harus Dilakukan Oleh Keluarga Apabila Menemukan Ada Anggota Keluarganya yang Mengalami Ketergantungan Narkoba?

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diketahui oleh keluarga yang memiliki pecandu narkoba di dalamnya:

1. Bernegosiasi dengan pecandu atau secara paksa membawanya ke rehabilitasi narkoba/IPWL.

Ada pecandu yang bersedia secara sukarela mengikuti program pemulihan di rehabilitasi narkoba, namun lebih banyak pecandu yang menolak untuk terisolir di sebuah rehabilitasi. Kehidupan di rehabilitasi narkoba merupakan penderitaan bagi mereka yang masih berada dalam tahap kecanduan, terutama saat melewati kondisi putus zat/sakaw. Namun keluarga harus memahami bahwa ini merupakan langkah yang tepat bagi kehidupan pecandu selanjutnya meskipun harus dilakukan dengan cara paksa.

Orangtua, terutama Ibu, biasanya tidak tega melihat anaknya harus secara paksa diborgol dan disergap  oleh  pihak  rehabilitasi sehingga membuatnya tidak dapat bersikap tegas terhadap anaknya. Sadarilah pula bahwa pecandu narkoba yang masih aktif sangat lihai dalam memanipulasi dan berbohong. Mereka dapat saja mengumbar janji untuk segera ber-henti menggunakan narkoba atau berpura-pura bahwa mereka sudah berhenti menggunakan narkoba supaya tidak dimasukkan ke tempat rehabilitasi atau dilaporkan ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Tetapi semakin lama mereka jatuh ke dalam penyalahgunaan narkoba yang terus-menerus, maka akan semakin membahayakan pecandu maupun keluarga itu sendiri.

2. Memperbaiki komunikasi dan interaksi dalam keluarga.

Tidak semua pecandu narkoba datang dari keluarga yang broken home. Ada pula pecandu narkoba yang datang dari keluarga harmonis. Narkoba dapat menjadi masalah bagi siapapun tanpa memandang latar belakang keluarga, tetapi komunikasi dan interaksi yang buruk dalam suatu keluarga membuat tendensi untuk jatuh dalam penyalahgunaan narkoba menjadi semakin besar. Orangtua akan memiliki akses untuk dapat memberikan masukan dan menjadi teman berbagi apabila komunikasi yang terjalin dengan anak telah berjalan dengan baik.

Jika komunikasi terhambat, maka orangtua akan sulit untuk masuk ke dalam kehidupan anaknya, mengawasi apa saja yang dilakukan anaknya, dan akan menciptakan adanya jarak emosional diantara keduanya. Ini membuat anak merasa terasing di rumah atau di keluarganya sendiri dan mencari perasaan nyaman di luar rumah, yaitu teman-teman sebayanya. Masalah akan muncul apabila teman-teman yang merangkulnya adalah teman-teman yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.

3. Tetaplah bersatu sebagai satu keluarga dan tidak terbagi menjadi kubu-kubu yang berseteru.

Biasanya ketika terdapat seorang pecandu narkoba dalam suatu keluarga, maka akan tercipta kubu-kubu di dalamnya, yaitu kubu yang membela pecandu narkoba dan kubu yang tampil seolah-olah menjadi ‘musuh’ bagi  pecandu narkoba. Pihak yang membela pecandu biasanya adalah ibu atau saudara perempuan, sedangkan pihak yang berkonflik dengan pecandu biasanya adalah ayah atau saudara laki-laki.

Terpecahnya satu keluarga menjadi dua kubu ini membuat konflik bertambah luas dan hubungan di dalam keluarga menjadi semakin buruk. Pertengkaran ataupun perceraian terkadang juga menyertai kondisi tersebut. Sadarilah akan adanya kemungkinan ini dan tetaplah fokus pada permasalahan ketergantungan narkoba pecandu. Semakin kompak suatu keluarga dalam merespon perilaku pecandu, maka semakin kondusif keadaan dan semakin besar dukungan yang dapat diberikan kepada pecandu untuk melepaskan diri dari jeratan narkoba.

4. Tetap berpartisipasi dan menyadari bahwa keluarga merupakan salah satu aset utama dalam pemulihan pecandu narkoba.

Banyak keluarga dari pecandu narkoba yang menyerahkan pecandu ke rehabilitasi narkoba kemudian seolah-olah ‘lepas tangan’ terhadap permasalahan narkoba pecandu tersebut. Mereka lupa bahwa ketergantungan narkoba bukan semata-mata masalah fisik dimana pecandu narkoba yang telah menjalani program detoksifikasi/rehabilitasi selama beberapa bulan kemudian akan kembali ke kehidupan sebelum menyalahgunakan narkoba dan segalanya akan baik-baik saja. Tidak semudah dan sesederhana itu.

Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa di Indonesia, 90% pecandu narkoba kembali menggunakan narkoba meskipun telah menjalani pemulihan di rehabilitasi. Karena narkoba merusak berbagai aspek dalam diri pecandu yaitu aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual, maka banyak hal yang harus dipersiapkan oleh seorang pecandu yang telah menyelesaikan program pemulihan untuk dapat kembali ke lingkungan. Dukungan dari lingkungan, terutama dari keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan bagi pecandu untuk dapat meneruskan hidupnya lepas dari narkoba. Keluarga dapat turut serta membangkitkan kembali semangat, kepercayaan diri, dan harapan dalam diri pecandu yang sedang dalam masa pemulihan.

5. Tidak putus asa dan cinta yang tulus (Tough Love).

Berbagai permasalahan pelik yang dihadapi oleh keluarga pecandu narkoba dapat menimbulkan perasaan lelah, depresi, frustasi atau putus asa. Keluarga dapat mengikuti pertemuan after care dimana sesama keluarga pecandu dapat saling bertemu dan berbagi cerita dan saling memberi semangat serta masukan.

Namun kesibukan atau perasaan malu untuk memproklamirkan bahwa ia adalah orangtua atau saudara dari pecandu narkoba membuat banyak keluarga kurang aktif untuk terlibat dalam kegiatan seperti itu. Padahal kegiatan tersebut justru dapat menjadi sarana mengekspresikan berbagai emosi negatif dan melepaskan beban emosional yang selama ini tersimpan. Keluarga juga harus belajar untuk menunjukkan tough love kepada pecandu narkoba dengan mampu untuk bersikap tegas dan tidak ikut terbawa atau terombang-ambing dalam pola yang dibentuk oleh pecandu narkoba.

Pola seperti apakah itu? Orangtua yang tidak mampu menunjukkan tough love cenderung akan membiarkan dirinya dan kehidupannya ikut menjadi berantakan karena perilaku pecandu. Mereka ikut menjadi pembohong untuk melindungi pecandu atau tidak dapat mengurus dirinya sendiri karena terlalu menghabiskan waktu mengurusi pecandu narkoba. Hal itu akan berdampak semakin buruk baik bagi pecandu narkoba maupun bagi keluarga itu sendiri.

Keluarga merupakan suatu sistem dimana anggota keluarga di dalamnya saling terkait satu dengan lainnya. Ketika salah satu orang di dalamnya terluka, maka semua akan turut merasakan luka tersebut. Begitu pula yang terjadi dalam keluarga seorang pecandu narkoba.

Infeksi Hepatitis C Pada Orang Dengan Masalah Penyalahgunaan Narkoba

HCV menjadi salah satu penyebab utama gagal hati dan kematian yang berkaitan dengan kelainan hati. Semenjak pengobatan anti retroviral (ARV) yang tersedia luas, kematian yang berhubungan dengan infeksi HCV sekarang telah melebihi kematian yang berhubungan dengan HIV.1Injection Drug Use (IDU) atau penyalahgunaan narkoba menggunakan jarum suntik adalah faktor resiko utama infeksi HCV karena HCV adalah virus yang menular melalui darah.

Tidak seperti penderita hepatitis A dan hepatitis B, penderita hepatitis C setelah sembuh dari penyakitnya tidak membentuk sistem kekebalan tubuh spesifik untuk HCV, sehingga mereka dapat terinfeksi kembali di kemudian hari. Selain itu, belum tersedia vaksin untuk HCV, membuat satu-satunya cara untuk mencegah penularan adalah dengan mencegah terpapar oleh darah yang mengandung HCV.2, 3, 4

Orang dengan masalah penyalahgunaan narkoba, terutama yang memakai jarum suntik, beresiko tinggi terinfeksi hepatitis C virus (HCV) melalui penggunaan jarum suntik dan perlengkapan lain yang sering digunakan dalam penyalahgunaan narkoba serta cairan untuk mencampur zat yang terinfeksi secara bersama-sama.1, 2, 4 Hepatitis C sangatlah menular, bahkan para IDU lebih mungkin terinfeksi HCV dibandingkan terinfeksi Human Imunodeficiency Virus (HIV). Penyalah guna narkoba yang tidak menggunakan jarum suntik pun diasosiasi-kan dengan resiko tertular HCV yang tinggi melalui pemakaian peralatan inhalasi bersama-sama untuk menghisap zat seperti kokain atau shabu melalui hidung. Resiko penularan HCV melalui hubungan seksual kecil bila dibandingkan dengan HBV dan HIV.3

HCV akan menghilang dari tubuh pada 15% sampai 25% orang, dengan kata lain pada 75% sampai 85% orang, infeksi HCV akan menetap. Infeksi hepatitis C dapat terjadi secara akut atau pun kronik. Infeksi dikatakan akut apabila infeksi terjadi kurang dari 6 bulan. Infeksi kronik terjadi bila sistem kekebalan tubuh gagal melawan HCV setelah lebih dari 6 bulan. Infeksi HCV kronik seringkali tidak diacuhkan karena jarang menimbulkan keluhan dan perkembangan penyakit terjadi secara perlahan-lahan. Infeksi dapat terjadi selama 20 -30 tahun tanpa menunjukkan gejala sampai pada akhirnya gejala muncul setelah terjadi kerusakan parah pada hati.2

Hepatitis C akut menimbulkan gejala ringan sampai tidak ada gejala sama sekali. Gejala-gejala tersebut antara lain: Mudah lelah, pusing, demam ringan, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, mual dan muntah, nyeri perut, kulit tampak kuning, diare, gatal-gatal pada kulit, air kencing yang berwarna seperti teh, dan feses yang tampak pucat. Gejala dapat menghilang walau infeksi terus berlangsung menjadi hepatitis C kronis.2, 3

Pada hepatitis C kronis timbul jaringan parut pada hati atau yang disebut fibrosis. Fibrosis dapat berlanjut menjadi sirosis dimana jaringan parut tersebar luas di sebagian besar bagian hati sehingga fungsi hati terganggu. Setelah fungsi hati terganggu, gejala-gejala seperti massa otot yang mengecil, pembengkakan di kaki , penumpukan cairan di perut (asites), perdarahan, sampai kesulitan berpikir dan mengambil keputusan akibat encephalopaty. Saat gejala-gejala ini mulai timbul orang yang terinfeksi HCV tersebut beresiko besar mengalami gagal hati maupun kanker hati dengan prognosis yang selalu buruk.2, 3

Sebagian besar orang yang terinfeksi HCV tidak terdiagnosis dan hanya sedikit orang memiliki akses untuk tes HCV. Banyak penyalah guna narkoba yang memulai terapi rehabilitasi mereka belum mengetahui status hepatitis mereka. Pada saat seseorang mulai menampakkan gejala seringkali kerusakan hati yang terjadi sudah parah kadang kala sampai terapi pun dikontraindikasikan. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk mendeteksi HCV sedini mungkin.1, 3

Tes serologi HCV yang pada umumnya dilakukan bertujuan untuk mendeteksi adakah antibodi spesifik untuk HCV dalam tubuh. Infeksi HCV yang terjadi kurang dari 6 bulan mungkin belum cukup lama untuk tubuh menghasilkan antibodi yang dapat terdeteksi oleh tes antibodi HCV, namun infeksi HCV yang telah terjadi selama 6 bulan hampir selalu menghasilkan hasil tes antibodi HCV positif. Mempertimbangkan adanya periode jendela 6 bulan dimana mungkin antibodi HCV belum terdeteksi, para penyalah guna narkoba atau orang dengan perilaku beresiko tinggi terinfeksi HCV dianjurkan untuk dilakukan tes antibodi HCV ulang setiap tahun.2

Tes antibodi HCV yang “positif” dapat berarti bahwa orang tersebut 1) menderita hepatitis C kronik (75% – 85%), 2) pernah terinfeksi dan telah sembuh (15% – 25%), atau 3) baru saja terinfeksi (infeksi akut). Karena hal tersebut, orang dengan hasil tes antibodi HCV positif dianjurkan untuk melakukan tes lanjutan, yaitu tes RNA (ribonucleic acid) HCV kualitatif. Apabila tes RNA HCV memberikan hasil “positif” selama setidaknya 6 bulan, maka dapat dikatakan orang tersebut terinfeksi hepatitis C kronik.2

Sekarang  ini hepatitis C adalah suatu penyakit yang dapat diobati.3 Tidak semua orang yang terinfeksi HCV serta merta memerlukan pengobatan. Pengobatan HCV bekerja baik untuk sebagian besar orang, namun pada beberapa orang, pengobatan tidak memperlihatkan hasil yang diinginkan. Ada kemungkinan bagi sejumlah kecil orang harus menjalani lebih dari 1 kali siklus pengobatan sebelum dapat dikatakan sembuh.5

Pengobatan HCV yang kini tersedia menghasilkan efek samping yang berbeda dari orang ke orang. Beberapa efek samping berkisar antara ringan sampai sedang dan tetap seperti itu sampai akhir masa pengobatan.2 Pada beberapa orang, efek samping yang tampak berat dan terus memburuk sejalan dengan berlanjutnya pengobatan. Biaya pengobatan yang mahal, pengobatan yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, dan efek samping yang harus dihadapi sepanjang jangka waktu tersebut sering kali terasa berat bagi penderita dan orang-orang disekitar mereka yang memberikan dukungan.3, 5

Infeksi Hepatitis C Pada Orang Dengan Masalah Penyalahgunaan NarkobaKeputusan untuk memulai pengobatan hepatitis C kronis didasarkan pada tingkat fibrosis dan keseimbangan antara kemungkinan sembuh dan terjadinya efek samping yang serius dari pengobatan. Orang dengan tingkat fibrosis yang rendah memberi respon yang lebih baik terhadap pengobatan HCV dengan Sustained Virological Rate (SVR) yang lebih tinggi. Di pihak lain, orang dengan tingkat fibrosis yang lebih lanjut dan sirosis yang terkompensasi akan memberi respon yang lebih buruk terhadap pengobatan. 2, 3

Semua orang dengan hepatitis C kronik, baik dewasa maupun anak-anak termasuk didalamnya para penyalah guna narkoba, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan untuk memutuskan perlu tidaknya memulai pengobatan dan bila perlu kapan pengobatan sebaiknya dimulai. Standar terbaru pengobatan infeksi kronik HCV genotipe 1 terdiri atas terapi dengan pegylated-interferon (1 kali suntik per 1 minggu), ribavirin (1-3 tablet, 2 kali minum per hari), dan telaprevir atau boceprevir (6-12 tablet, 2-3 kali minum per hari). Pengobatan berlangsung dalam jangka waktu yang lama (6-12 bulan), tingkat toleransi obat yang rendah, dan tingkat keberhasilan hanya pada 60% – 70% orang.1, 3

Pada awalnya, pedoman pengobatan infeksi HCV kronik mengeluarkan para penyalah guna narkoba dari kelompok orang yang direkomendasikan untuk menerima pengobatan. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa mereka memiliki kepatuhan terhadap pengobatan yang rendah, resiko mengalami efek samping yang tinggi (misal depresi), dan kemungkinan terjadinya re-infeksi yang besar. Penelitan terkini melaporkan pengobatan hepatitis C kronik pada para penyalah guna narkoba sama efektifnya dan aman.1

Kendati prevalensi HCV yang tinggi, respon terhadap pengobatan yang baik, tersedianya pedoman pengobatan yang telah memasukkan para penyalah guna narkoba sebagai populasi target, serta tingginya minat untuk menjalani pengobatan, angka penerima pengobatan hepatitis C kronik tetap rendah sekitar 1% – 2% per tahun, bahkan di tempat dimana  pengobatan  tersedia  dan  terjangkau  bagi  setiap orang. Rendahnya kesadaran dan kurangnya pengetahuan mengenai HCV baik diantara orang yang terinfeksi, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan, serta diskriminasi dan stigma yang dihadapi menjadi kendala utama bagi para penyalah guna narkoba untuk menerima pengobatan HCV. 1, 3 Penanganan infeksi HCV pada para penyalah guna narkoba memerlukan pelayanan yang terintergrasi. Program harm-reduction seperti penyediaan alat suntik dan jarum steril, terapi subtitusi opioid, intervensi prilaku untuk pengurangan in take alkohol, vaksinasi HBV perlu dipertimbangkan. 3, 4

Sampai sekarang, urgensi pencegahan HIV diantara para penyalah guna narkoba menutupi epidemik hepatitis viral yang sedang terjadi..4 Kurangnya kesadaran tentang bahaya dari HCV diantara pembuat kebijakan dan masyarakat secara umum membuat upaya untuk meningkatkan pencegahan dan akses pengobatan serta usaha untuk menjamin pengobatan HCV yang terjangkau masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan upaya-upaya sama yang telah dilakukan untuk infeksi HIV.1

Referensi:

  1. Bruggmann, P., & Grebely, J. (2014). Prevention, treatment and care of hepatitis C virus infection among people who inject drugs. International Journal on Drug Policy, 26, S22-S26.
  2. Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA). Addressing Viral Hepatitis in People With Substance Use Disorders. Treatment Improvement Protocol (TIP) Series 53. Rockvill, MD: SAMHSA; 2011. (http://store.samhsa.gov/shin/content//SMA11-4656/TIP53.pdf, accessed 29 March 2015).
  3. World Health Organization (WHO). Guidelines For The Screening, Care, and Treatment of Persons With Hepatitis C Infection. Geneva: WHO; 2014. (http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/111747/1/9789241548755_eng.pdf, accessed 29 March 2015).
  4. World Health Organization (WHO). Guidance on prevention of viral hepatitis B and C among people who inject drugs. Geneva: WHO; 2012. (http://www.who.int/iris/bitstream/10665/75357/1/9789241504041_eng.pdf, accessed 29 March 2015).
  5. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), Regional Office for South Asia. Standart Operating Procedure on Care and Support for Co-morbid Conditions among Injecting Drug Users. New Delhi: UNODC; 2012. (http://www.unodc.org/documents/southasia//publications/sops/care-and-support-for-co-_GoBack_GoBack_GoBack_GoBackmorbid-conditions-among-injecting-drug-users.pdf, accessed 29 March 2015).

Gangguan Menstruasi Pada Penyalahgunaan Narkoba

Apakah Menstruasi atau Haid itu?

Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi (Gambar 1). Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause.

Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya, menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-kadang menstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari paling lama 15 hari. Jika darah keluar lebih dari 15 hari maka itu termasuk darah penyakit. Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10mL hingga 80mL per hari tetapi biasanya dengan rata-rata 35mL per harinya.

Apa Saja Dampak Buruk Dari Penyalahgunaan Narkoba?

Pada korban penyalahgunaan narkoba terjadi dampak yang buruk terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan pada endokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron) sehingga terjadi perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid) serta gangguan fungsi seksual (Gambar 2).

Gangguan haid yang terjadi salah satunya adalah siklus haid yang tidak teratur. Jika anda mengalami pendarahan menstruasi kurang dari 3 hari atau lebih dari 15 hari. Atau bisa tidak haid sama sekali tiap bulannya. Selain itu juga jumlah darah yang dikeluarkan tidak boleh melebihi 80 mL. Ketidak-seimbangan hormon atau kelainan yang disebabkan penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan haid tidak teratur, yang dapat mempengaruhi tingkat kesuburan dan kesempatan wanita untuk mendapatkan bayi.

Apa Saja Macam-Macam Gangguan Haid?

Dismenorrhea adalah rasa sakit yang sangat ketika menstruasi datang. Kelainan hormon reproduksi karena penyalahgunaan narkoba, endometriosis, atau fibroid dapat menimbulkan menstruasi dengan rasa sakit, gejala dismenorrhea termasuk rasa sakit pada punggung bagian bawah atau kaki, kram perut, atau sakit pada tulang panggul. Kelain-an menstruasi ini dapat menunjukkan ketidaksuburan.

Gangguan Menstruasi Pada Penyalahgunaan Narkoba Ketidakseimbangan hormon karena penyalahgunaan  narkoba atau kelainan rahim dapat menyebabkan volume darah menstruasi yang sangat tinggi, Jika wanita mengalami menstruasi selama tujuh hari atau lebih, dan darah yang keluar tidak tertampung lagi oleh pembalut, maka kemungkinan ia menderita menorrhagia. Darah yang menggumpal juga sebenarnya normal, namun gumpalan darah dalam jumlah besar merupakan tanda “heavy periods”. Menorrhagia dapat menyebabkan anemia, jadi pastikan untuk mengonsumsi cukup banyak zat besi.

Jika wanita tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan, kemungkinan ia sedang hamil. Namun penyebab lainnya bisa juga karena ia mengalami amenorrhea, perimenopause, atau menopause. Penyebab yang paling umum dari absennya menstruasi adalah kehamilan. Amenorrhea juga merupakan efek samping dari penyakit yang disebabkan penyalahgunaan narkoba, stres, latihan terlalu berat, atau turunnya berat badan yang berlebih. Jika wanita tidak menstruasi, bisa jadi ia tidak berovulasi (tidak melepas telur setiap bulan). Jika tidak berovulasi maka ia akan kesulitan hamil.

Bagaimana Mengatasi Gangguan Haid?

1. Berhentilah Menggunakan Narkoba

Ketergantungan Narkoba merupakan penyakit kronis yang harus segera ditangani dengan pencegahan, pendidikan dan pengobatan. Salah satu dengan peng-obatan di Balai Rehabilitasi secara berkesinambungan. Karena sangat jelas sekali zat narkoba sangat berdampak buruk terhadap keseimbangan hormon reproduksi yang sudah dibuktikan secara penelitian ilmiah.

2. Hidup Sehat dan Jauhi Seks Bebas

Makanlah makanan yang bergizi baik dan pola makan teratur dengan 4 sehat 5 sempurna, disertai istirahat yang cukup dengan tidur 6- 8 jam sehari, tetapi jangan sampai makan dan tidur berlebihan yang menyebabkan obesitas. Karena makanan bergizi dapat memperbaiki sel-sel dan organ rusak yang disebabkan penyalah-gunaan narkoba. Hidup sehat tanpa seks bebas juga dianjurkan karena infeksi yang ditularkan oleh hubungan seks dapat merusak organ reproduksi.

3. Konsultasi ke Dokter

Ada banyak penyebab gangguan haid atau menstruasi, di antaranya penyalahgunaan narkoba. Untuk mendapatkan penyebab lain dan pengobatan lebih lanjut, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter agar gangguan menstruasi dapat disembuhkan.

4.Gunakan Pembalut yang Tepat

Biasanya darah haid mula-mula keluar berwarna hitam, kemudian berubah kepada merah, kemudian antara merah dan kuning, kemudian kuning dan akhirnya keruh (yakni antara putih dan hitam), hingga akhirnya putih bersih tanda selesainya haid. Namun tiap wanita biasanya memiliki siklus warna darah yang berbeda satu sama lain. Untuk menampung darah haid, wanita yang mengalami menstruasi harus memakai pembalut, baik pembalut tradisional misalnya kain ataupun pembalut modern yang sudah ada dengan berbagai keunggulan. Ada pembalut yang terbuat dari herbal, sehingga nyaman dipakai, ada juga pembalut yang di desain dengan ukuran panjang 29 hingga 35 cm untuk dipakai saat tidur atau bagi mereka yang darah haidnya keluar dengan deras. Pembalut harus diganti minimal dua kali sehari untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi pada vagina atau gangguan-gangguan lainnya. Berikut pemilihan pembalut yang tepat :

a. Pilih pembalut sesuai dengan kebutuhan.

b. Pilih yang nyaman dipakai dan tidak mudah mengerut.

c. Pilihlah pembalut berdaya serap tinggi.

d. Pada saat membeli pembalut, pastikan kemasannya baik dan tertutup rapat.

e.  Pilihlah pembalut dari bahan sangat lembut dan lentur.

Referensi:

  1. http://www.lakesma.ub.ac.id/2012/08/kok-bisa-sih-nyeri-haid-dysmenorrhea/
  2. http://www.majalahkesehatan.com/tips-agar-anda-cepat-hamil/
  3. http://www.doktersehat.com/
  4. http://www.majalahkesehatan.com/5-jenis-gangguan-menstruasi-haid/

Disfungsional Family dan Narkoba

Berdasarkan beberapa proses asesmen yang dilakukan, banyak permasalahan pengguna narkoba berawal dari lingkungan terdekatnya seperti keluarga. Peran keluarga seperti ayah, ibu, saudara dan yang lainnya, cukup penting bagi setiap orang, termasuk pengguna narkoba. Banyak keluarga yang mengalami masa dimana keberfungsiannya terganggu karena beragam jenis tekanan. Pada keluarga yang mengalami ke-kurang-berfungsian dengan baik (dysfungsional family), biasanya masalah cukup berat dan keinginan anak tidak terpenuhi.

Beberapa orangtua kurang mampu berfungsi dengan baik sehingga membiarkan anaknya menghadapi masalah sendiri. Sementara itu terdapat pula orangtua yang berfungsi secara berlebihan dengan tidak membiarkan anaknya berkembang dan menjadi dirinya sendiri. Beberapa orangtua lain juga tampak tidak konsisten atau juga terdapat orangtua yang melakukan kekerasan dengan perilaku yang tidak tepat (Benton, 1993). Selanjutnya, Benton (1993) juga menjelaskan secara terperinci, beragam jenis keluarga yang mempengaruhi perilaku anak menjadi kurang tepat yaitu :

  1. Orangtua yang tidak sempurna, dapat berupa berbagai jenis misalnya sakit fisik, sakit mental maupun ketiadaan. Pada keadaan ini, anak menggantikan peran orangtua untuk bertanggung jawab terhadap beberapa tugas orangtua di usia dini;
  2. Orangtua yang memegang control berlebih, dimana orangtua tidak mampu memberikan kesempatan kepada anaknya untuk memegang tanggungjawab yang tepat pada usianya. Biasanya orangtua dengan jenis ini memiliki ketakutan yang berlebih akan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan dari anak mereka.  Anak kemudian mengembangkan perasaan marah, tidak mampu dan tidak memiliki kekuatan;
  3. Orangtua pengguna alkohol atau adiksi, keluarga dengan jenis ini lebih rumit dan tidak dapat diprediksi. Aturan yang berlaku cenderung berubah-ubah, janji tidak ditepati, ekspektasi yang berubah-ubah, dan sikap orangtua yang berbeda dan berubah. Hal ini juga disertai dengan kecilnya kemungkinan anak untuk mengekspresikan emosi, sehingga anak dibiarkan merasa tidak aman, frustasi dan marah;
  4. Orangtua yang melakukan penyalahgunaan secara verbal, fisik maupun seksual.  Keluarga dengan jenis orangtua ini membutuhkan bantuan dari luar lingkungan keluarga untuk mendukung anak tetap berada pada keadaan yang sehat dan tidak meniru sikap negatif orangtuanya.

Pemberian intervensi psikologis tentu disesuaikan dengan akar permasalahan yang dialami pengguna narkoba. Apabila hasil asesmen menunjukkan bahwa keluarga kurang berfungsi dengan baik, maka yang harus menjalani proses terapi bukan hanya pengguna narkoba (residen), tapi harus melibatkan seluruh anggota keluarga. Dalam psikologi dikenal dengan istilah family therapy. Dalam jurnal yang dikeluarkan oleh Center for Substance Abuse Treatment, family therapy dapat diterapkan pada semua pengguna narkoba (narkoba jenis apapun), termasuk pengguna dengan dually diagnosed (diagnosa ganda), penyalahguna obat bius serta klien HIV yang disertai dengan penyalagunaan narkoba (Adhesatya, S.Psi & Khabibah , S.Psi)

DAMPAK NARKOBA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

Pengertian kesehatan reproduksi menurut WHO adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara lengkap dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta prosesnya.

Pengertian sehat di sini tidak selalu berarti bebas penyakit atau bebas dari kecatatan, namun juga sehat secara mental serta sosiokultural. Masyarakat perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya.

Masalah yang banyak muncul dimasyarakat saat ini adalah narkoba. Narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Makin meningkatnya tingkat pengguna narkoba dimasyarakat saat ini memang menjadi masalah yang sulit dipecahkan. Dampak yang ditimbulkan dari narkoba sangat membahayakan bagi kesehatan. Meskipun banyak orang yang telah mengetahui akibat buruk dari narkoba namun sebagian besar masih tetap saja mengkonsumsinya.

Secara teori, narkoba akan menyebabkan sel-sel sperma ataupun sel-sel telur “cedera” sehingga pembuahan menjadi tidak sempurna, akibatnya bayi yang lahir akan cacat. Bagi ibu hamil, narkoba akan memberikan efek bagi janin sehingga pertumbuhannya tidak sempurna. Kenyataan medis menyatakan bahwa narkoba tidak dapat meningkatkan fungsi seksual namun justru menimbulkan akibat buruk terhadap fungsi seksual dan organ tubuh yang lain, selain tentunya kematian.

Bagaimana dengan fakta yang ditemukan di lapangan? Para pecandu narkoba umumnya aktif secara seksual, baik laki-laki maupun perempuan, baik dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Penggunaan narkoba membuat mereka tidak berpikir panjang akan akibat dari hubungan seksual yang mereka lakukan. Namun demikian, walaupun aktif secara seksual bukan berarti mereka mempunyai informasi akurat mengenai aspek seksualitas dan kesehatan reproduksi, karena pada umumnya pengetahuan mereka mengenai hal itu sangatlah terbatas. Jangankan aspek pencegahan kehamilan atau tertular infeksi menular seksual (IMS) yang dapat dicegah dengan menggunakan kondom, aspek yang sangat sederhanapun tentang akibat dari hubungan seks yang tidak aman dapat menyebabkan kehamilan dan IMS-HIV/AIDS saja tidak mereka ketahui sebelumnya.

Akibatnya, dalam sebuah studi ditemukan bahwa dari perempuan penyalah guna narkoba yang sudah aktif seksual, 40% di antaranya sudah pernah mengalami aborsi dan 80% dari mereka sudah pernah mengalami  IMS, termasuk HIV/AIDS.

Masalah kesehatan reproduksi pada wanita pecandu mencakup beberapa area, antara lain :

1.  Masalah reproduksi

Kesehatan, morbiditas (gangguan kesehatan) dan kematian perempuan yang berkaitan dengan kehamilan dan narkoba. Termasuk di dalamnya juga masalah gizi dan anemia di kalangan perempuan, penyebab serta komplikasi dari kehamilan perempuan penyalah guna narkoba, masalah kemandulan dan ketidaksuburan akibat penggunaan narkoba. Pelayanan kesehatan pada perempuan pecandu yang terinfeksi HIV, IMS atau penyakit menular lainnya.

2. Masalah kekerasan perempuan penyalah guna narkoba.

Kencenderungan adanya kekerasan secara sengaja kepada perempuan, perkosaan, serta dampaknya terhadap korban. Norma sosial mengenai kekerasan dalam rumah tangga, serta mengenai berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan. Sikap masyarakat mengenai kekerasan perkosaan dan langkah-langkah untuk mengatasi hal tersebut.

3. Masalah penularan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual

Penyakit menular seksual seperti sifilis, gonorrhea, herpes kelamin, clamidia dan lainnya. Penyakit HIV/AIDS yang jadi momok dikalangan perempuan pecandu. Selain itu dampak psikologi dan sosial akibat penularan penyakit tersebut perlu ditangani dengan baik dan menyeluruh.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari bahaya narkoba? Beberapa diantaranya adalah memiliki prinsip hidup sehat, memperkuat keimanan dengan rajin beribadah,  memilih lingkungan pergaulan yang sehat, komunikasi yang baik kepada kedua orang tua atau orang-orang terdekat. Salah satu yang paling penting adalah menghindari pintu masuk narkoba yaitu rokok.

Hubungan komunikasi yang baik antara anak dengan orang tuanya tentu akan memudahkan dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh anak. Selain untuk mencegah anak menyalahgunakan narkoba, orang tua juga berperan sebagai pemantau dan pendeteksi dini terhadap perilaku anak.

Quotes : YOUR CHILDREN WILL BECOME WHO YOU ARE, SO BE WHO YOU WANT THEM TO BE..