Kepribadian, Kecanduan, dan Narkoba

Kepribadian, Kecanduan, dan Narkoba
Penulis : Paulus Hartanto MPsi
Praktisi Quantum Learning dan
Pemerhati Masalah Rema

SALAH satu masalah yang kerap menjadi pertanyaan banyak manusia mungkin adalah tentang kepribadian. Kerap kita dengar orang bertanya ‘Saya ini siapa sih?’, ‘Saya orang yang seperti apa ya?’, atau pada beberapa orang lain pertanyaan yang diajukan adalah ‘Kenapa saya bisa seperti ini ya?’

Di bidang psikologi, teori-teori kepribadian cukup banyak dan masing-masing memiliki pendukung maupun penentangnya. Misalnya saja teori kepribadian Freud yang mengatakan perilaku manusia (tindakan, pikiran, perasaan, dan aspirasi) ditentukan kekuatan insting, yang didominasi dorongan seks dan agresivitas. Seperti kenapa seseorang menjadi pencemas karena adanya sejumlah faktor yang berasal dari alam ketidaksadaran.


Freud juga mengatakan kepribadian memiliki tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego. Tentu saja teori itu kemudian ditentang banyak pihak karena seolah-olah menyatakan manusia itu tidak mampu mengembangkan dirinya sendiri. Kalangan lain meyakini kepribadian merupakan sebuah sistem terbuka dan selalu mengalami perkembangan. Sampai sini lalu mulai muncul pertanyaan apakah kepribadian itu sesuatu yang menetap atau berubahubah.

Penggolongan manusia dalam berbagai jenis kepribadian sudah terjadi sejak lama. Ada yang menggolongkan kepribadian manusia dalam tipe sanguine, plegmatik, melankolik, dan kolerik. Ada juga yang mencoba membangun teori kepribadian melalui tanggal, bulan dan tahun lahir sehingga terbagi dalam berbagai macam zodiak (ada gemini, pisces, scorpio, dan sebagainya) ataupun shio (ayam, macan, ular, dan sebagainya).

Tentang kepribadian
Kepribadian dalam bahasa Inggris adalah personality. Kata itu diyakini berasal dari bahasa Latin persona. Awal digunakan, kata ini berarti topeng-topeng yang dipakai para pemain dalam dramadrama Yunani. Namun, akhirnya berkembang menjadi peran-peran yang dimainkan para tokoh dalam drama tersebut. Memang konsepsi awal tentang kepribadian adalah citra sosial yang sifatnya dangkal (superficial social image), yang diadopsi seseorang dalam drama kehidupan. Misalnya saja, orang mengatakan si X orang yang menarik, populer, keren, mudah bergaul, dan sebagainya.

Kepribadian kemudian juga dilihat sebagai karakteristik dominan yang ada pada diri seseorang, seperti kepribadian agresif, pemalu. Memang banyak orang lalu menggolongkan ciri-ciri ini dalam kategori kepribadian baik atau jelek. Misalnya kepribadian agresif tidak baik, tapi kepribadian tenang baik. sebenarnya, para psikolog kepribadian hampir tidak pernah membuat sebuah evaluasi atas kepribadian. Mereka melihat kepribadian sebagai suatu hal yang netral. Banyak sekali tokohtokoh yang mengemukakan definisi mereka tentang apa itu kepribadian, dan semua definisi ini sangat bergantung pada teori kepribadian apa yang dibangun.

Adalah benar bahwa sampai saat ini belum ada satu kesepakatan pun mengenai kepribadian manusia itu seperti apa. Tak mengherankan jika seorang Victor Frankl sampai pernah mengatakan tantangannya sekarang adalah menyatukan kepingan-kepingan puzzle pemikiran tentang manusia yang saat ini berserakan sehingga menjadi sesuatu yang bermakna.

Jika Anda punya waktu dan iseng-iseng mencari tahu pengertian kepribadian di internet, akan Anda temui sekitar 930 ribuan definisi. Terserah Anda mau menggunakan yang mana, pada akhirnya kepribadian merupakan suatu hal yang bisa membedakan satu orang dengan orang lainnya. Kepribadian juga mengacu pada sejumlah aspek yang relatif permanen pada diri seseorang. Dengan demikian, setiap orang dapat dikatakan unik, bahkan antaranak kembar sekalipun. Dan keunikan ini relatif tidak berubah dari waktu ke waktu. Kepribadian bagaikan sidik jari psikologis seseorang.

Sebuah teori lain, teori gunung es kepribadian (The Institute of Motivational Living Inc, 2004), menyatakan kepribadian kita yang asli akan muncul pada saat kita berada dalam tekanan. Dalam situasi normal, kebanyakan orang akan menampilkan sisi baik dari dirinya demi sopan santun ataupun pembentukan citra diri. Bagian gunung es yang muncul di atas permukaan laut itulah yang dikenal sebagai kepribadian dan berjumlah sekitar 5%. Sementara itu, bagian gunung es yang berada di bawah permukaan laut (sebesar 95%) disebut sebagai character & temperament. Karakter menunjukkan respons kita terhadap tekanan, sementara temperamen memperlihatkan siapa kita sesuai dengan faktor-faktor bawaan lahir kita.

Terbentuknya kepribadian
Dulu orang berpendapat bahwa kepribadian ditentukan faktor keturunan atau bawaan. Jika orang tuanya seorang pemarah, besar kemungkinan anaknya juga akan menjadi anak pemarah. Namun, pendapat ini kemudian dipertanyakan itu banyak pihak.

Pendapat yang kemudian berkembang adalah bahwa kepribadian merupakan hasil bentukan lingkungan. Faktor-faktor di luar diri seseorang (seperti pola asuh orang tua, pendidikan guru, perlakukan masyarakat sekitar, nilai yang ditanamkan, dan sebagainya) diyakini sangat berperan dalam membentuk kepribadian seseorang.

Boeree mengatakan kepribadian terbentuk oleh tiga faktor, yaitu keturunan, lingkungan, dan situasi. Dan lebih dari itu, interaksi ketiga faktor tadi terjadi dalam tiga fase transisi yang menentukan bagi setiap orang, yaitu fase bayi, remaja, dan dewasa. Pandangan yang menyatakan kepribadian merupakan hasil interaksi beberapa faktor merupakan pandangan yang banyak disetujui banyak orang belakangan ini. Meski begitu, ada juga yang menyatakan setuju pada teori interaksi ketiga faktor tersebut, dengan tetap menganggap keturunan sebagai faktor yang dominan.

Mengukur kepribadian
Seperti pengukuran variabelvariabel psikologis lainnya, pengukuran kepribadian juga dapat dilakukan melalui pengamatan, wawancara ataupun pengisian alat ukur tertentu. Alat ukur yang biasa digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang adalah inventori. Alat ini berisikan sejumlah pertanyaan dan pengisi menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan kondisi dirinya. Setelah diisi, inventori ini kemudian di nilai dengan cara tertentu sehingga akhirnya didapatkan gambaran tentang kepribadian pengisi.

Ada banyak inventori yang dapat digunakan, misalnya MBTI, DISC, MMPI, PPI, Drake P3 dan sebagainya. Tiap inventori dibuat berdasarkan teori tertentu dengan interpretasi yang berbeda-beda. Umumnya inventori pengukuran kepribadian menggunakan metode self-report. Pada metode ini, setiap orang memberikan data yang menurut mereka sesuai dengan keadaan dirinya. Tentu saja unsur subjektivitas cukup berperan dalam metode ini. Hal itu coba diminimalkan dengan menguji konsistensi jawaban pengisi atas pertanyaan yang sama sampai beberapa kali.

Aspek yang diukur oleh tiap inventori berbeda-beda. MBTI misalnya, mengukur empat dimensi dari kepribadian seseorang. Dimensi pertama mengukur sumber energi yang membuat seseorang hidup: extraversion (berasal dari luar dirinya) atau intraversion (berasal dari dalam dirinya). Orang yang ekstrover mendapatkan energinya bila ia menjadi pusat perhatian, berdiskusi dengan orang lain, dan sebagainya. Orang introver akan lebih berenergi bila banyak kesempatan untuk membuat perenungan, kesendirian, dan sebagainya.

Dimensi kedua dari MBTI mengukur bagaimana seseorang memahami sesuatu secara alami. Ada orang-orang yang bisa memahami sesuatu dengan melihat, mencium, mendengar, dan menggunakan sensor indriawi. Biasanya mereka melihat secara detail dan fokus pada hal-hal yang terjadi saat ini. Itu disebut sebagai tipe sensing. Ada pula orang lain yang memahami sesuatu dengan melihat pola umum yang terjadi, dan fokus pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Itulah tipe intuition. Ilmuwan yang bekerja di laboratorium kimia biasanya tergolong sensing, sementara seorang pemain di bursa saham tergolong intuition.

Dimensi ketiga mengukur bagaimana seseorang mengambil keputusan. Ada yang mengambil keputusan dengan menggunakan logika (head), tapi ada pula yang menggunakan perasaan dan rasa kemanusiaan (heart). Pada dimensi ini ada tipe thinking dan feeling. Orang yang bisa memecat orang dengan kepala dingin, menggunakan nalar, dan tidak terlalu peduli perasaan orang tersebut, tergolong thinking. Adapun orang yang jika harus memecat seseorang dengan masih mempertimbangkan soal kemanusiaan, kasihan pada keluarganya, dan sebagainya tergolong feeling.

Dimensi keempat mengukur gaya hidup seseorang. Ada orang yang gaya hidupnya teratur, terencana dan penuh dengan persiapan (ini disebut dengan tipe judgement), tetapi ada juga yang hidupnya mengalir, spontan fleksibel dan sangat adaptif (ini tergolong tipe perceiving). Orang yang bila ingin pergi ke luar kota harus dengan perencanaan yang matang dan detail termasuk sebagai judgement. Namun, orang yang pergi ke luar kota dan menganggap perjalanannya sebagai sebuah petualangan penuh kejutan sangat mungkin tergolong tipe perceiving.

Kombinasi keempat dimensi itu akan menghasilkan 16 tipe kepribadian, yang masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri. Bisa kita lihat di sini bahwa pengukuran kepribadian merupakan suatu proses yang rumit dan tidak pernah menjamin memberikan hasil yang 100% akurat. Dan perlu diingat juga bahwa kita masih berbicara tentang pengukuran kepribadian untuk orang ‘normal’. Bagaimana jika pengukuran ini dilakukan pada para pecandu? Namun, sebelum melangkah lebih jauh, kita coba lihat dulu apa yang dimaksud dengan kecanduan itu, dan apa saja jenis-jenis kecanduan itu.

Kecanduan
Kecanduan adalah sebuah kondisi ketika kebebasan dan kendali terhadap diri sudah tidak ada lagi. Ada bermacam-macam kecanduan, mulai dari kecanduan judi, minuman keras, narkoba, makan, olahraga, lihat situs porno, dan sebagainya. Covey pengarang buku Seven Habit pernah mengemukakan sebuah kecanduan lain, yaitu kecanduan urgensi (urgency addiction).

Kecanduan urgensi digambarkan sebagai sebuah kondisi pada waktu seseorang melakukan suatu aktivitas bukan lagi atas pertimbangan aktivitas tersebut penting atau tidak, tapi pada genting tidaknya. Yang dicari adalah kondisi gentingnya. Semakin genting semakin menyenangkan. Dan begitu kondisi genting ini berhasil dilalui, akan terasa ada aliran adrenalin hangat yang mengalir di tubuh. Sensasi ini memberi kenikmatan yang luar biasa. Setelah itu orang tersebut akan bergerak mencari kondisi genting lainnya.

Pada beberapa orang yang mengalami kecanduan urgensi, mereka mengatakan sulit bagi mereka untuk mengerjakan sesuatu bila belum menjelang tenggat. Inspirasi tidak muncul dan otak seperti buntu. Namun, semakin mepet dengan tenggat, ideide mengalir dengan lancar dan brilian. Begitu krisis ini berhasil dilewati, muncul perasaan senang berhasil lolos dari krisis dan ingin mengulangi sensasi itu. Akibatnya mereka mencari lagi kondisi-kondisi kritis lainnya. Dan begitu seterusnya.

Hampir pada semua kasus kecanduan, orang kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan sebuah kebiasaan dan merasa tidak berdaya untuk keluar dari situasi tersebut. Biasanya mereka sudah mencoba berkali-kali namun akhirnya jatuh kembali.

Kecanduan narkoba memiliki intensitas yang lebih hebat sehubungan adanya zat-zat kimia yang dikonsumsi berdampak dalam memengaruhi cara kerja otak. Sebuah hormon yang mendatangkan kenikmatan ‘dipaksa’ untuk keluar dengan bantuan zatzat tertentu dan pada akhirnya memengaruhi tingkah laku secara keseluruhan.

Bilamana kenikmatan itu hilang, tubuh seperti menagih kembali. Dan hal ini terjadi terus menerus sehingga skalanya makin lama makin besar. Kecanduan pun semakin parah.

Karena pengaruh narkoba terhadap perilaku inilah, ada yang mengatakan setelah terkena narkoba, kepribadian seseorang akan berubah drastis. Dari sini muncul pertanyaan: jika kita ingin melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba, apakah ada tipe kepribadian tertentu yang rentan terhadap hal tersebut atau apakah tipe kepribadian manapun memiliki risiko yang sama.

Kepribadian dan kecanduan
Ada sebuah tradisi panjang yang menghubungkan kepribadian dengan zat-zat adiktif lainnya. Citra kepribadian paling populer tentang pecandu adalah mereka orang yang lemah, tidak bisa dipercaya, jahat, keji, tidak menyenangkan, menakutkan, dan sebagainya.

Terlepas dari benar tidaknya gambaran seperti itu, tampaknya kepribadian memang dianggap berkontribusi terhadap kecenderungan seseorang dalam menggunakan zat-zat tertentu. Colondam (2007) mengatakan ada sejumlah kecenderungan pribadi yang bisa membuat seseorang menjadi pecandu. Misalnya kecenderungan untuk ikut-ikutan teman, dorongan untuk diterima kelompok sebaya, kesulitan menolak ajakan teman, dan sebagainya.

Dengan menggunakan pengukuran kepribadian ala DISC, Colondam menemukan anak dengan dimensi Intim yang tinggi dan dimensi Stabil yang sedikit rendah, cenderung lebih mudah bereksperimen dengan rokok dibanding anak dengan dimensi Dominan dan Cermat yang tinggi. Penjelasan dari tiap dimensi bisa dilihat di tabel 1.

Colondam selanjutnya juga menemukan para perokok kebanyakan memiliki tipe kepribadian Intim-Stabil, yang ditandai dengan ciri-ciri anak gaul, sulit menolak ajakan teman, perlu mengidentifikasikan diri dengan tren yang sedang terjadi. Mereka juga suka mencari popularitas, dan berani mengambil risiko tanpa berpikir panjang. Mereka yang bukan perokok kebanyakan memiliki tipe Cermat-Stabil. Tipe ini lebih cermat dalam menganalisis sebelum mengambil keputusan. Mereka tidak terlalu terpengaruh oleh teman dan cenderung menjauhi risiko.

Yang menarik adalah bahwa tipe yang diduga kuat mampu menolak pengaruh buruk narkoba adalah Dominan yang dikombinasikan dengan Cermat. Pada penelitian Colondam ditemukan juga bahwa hampir 80% responden memiliki tipe Intim Stabil atau Stabil Intim. Rendahnya dimensi Dominan membuat mereka cenderung kurang proaktif, sulit mengambil keputusan dan kurang berjiwa pemimpin.

Meskipun dari riset ini ditemukan adanya peranan perbedaan tipe kepribadian terhadap kecenderungan penggunaan narkoba, kita tetap perlu waspada walau anak-anak kita termasuk tipe yang aman. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa anak-anak kita akan aman dari ancaman. Lalu bagaimana memanfaatkan pemahaman tentang tipe kepribadian ini untuk memperkuat anak-anak kita agar tidak tergoda narkoba?

Bantulah anak-anak dengan memerhatikan titik lemah dan ketakutan terbesar dari tiap dimensi yang dimilikinya dan perkuat hal-hal baik yang sudah ada pada dirinya.

Memang sampai sekarang belum ada studi yang sungguhsungguh menyatakan adanya korelasi atau hubungan kausal yang signifikan antara tipe kepribadian dengan penyalahgunaan narkoba. Beberapa studi sudah membuktikan bahwa tipe kepribadian yang berinteraksi dengan beberapa variabel lain dapat memengaruhi pengambilan keputusan dalam menggunakan narkoba atau tidak.

Tulisan ini diharapkan dapat memberi suatu pemahaman bahwa kita sebagai orang tua betulbetul perlu mengenali kepribadian anak kita sebaik-baiknya. Pengenalan ini perlu agar kita bisa memahami mereka dan membantu mengarahkan mereka menuju masa depan yang lebih baik. Kalau memang sayang anak, jangan asal.**

By kampungbenar Posted in ARTIKEL

One comment on “Kepribadian, Kecanduan, dan Narkoba

  1. Selamat Siang Bapak.. salam kenal saya Indra mahasiswa Magister Profesi Psikologi. saya tertarik untuk mempelajari tentang penanganan narkoba, apabila ingin memiliki artikel mengenai narkoba sebaiknya menghubungi kepada siapa?
    trimakasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s