Menjadikan Pribadi Bebas dari Narkoba

Menjadikan Pribadi Bebas dari Narkoba
[10 Maret 2009, 14:21 WIB] Oleh : Oleh : Rotua Sihotang, STh pus cegah lakhar BNN

Untuk menjadi pribadi yang bebas dari penyalahgunaan narkoba, seseorang yang mulai menginjak remaja, memang memerlukan perjuangan yang keras dan sungguh-sungguh. Sebuah penelitian menemukan lebih dari 70 persen remaja di Jakarta pernah ditawari narkoba. Bagaimana kita sebagai orangtua dapat mengenali remaja kita? Remaja seperti apa sebenarnya yang tahan terhadap godaan dan ajakan untuk menyalahgunakan narkoba?

Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), diketahui bahwa remaja yang tahan godaan adalah remaja yang memiliki kepatuhan hukum, patuh pada orangtua, membiasakan diri hidup bersih dan sehat, serta memiliki kematangan emosional dan spiritualnya.
Kelima hal itu ditemukan melalui sebuah studi faktor protektif yang melibatkan lebih dari sebelas ribu remaja SMP dan SMA di Jakarta. Dengan asumsi bahwa ada sekitar 8 -12 persen remaja di Jakarta yang pernah menggunakan narkoba, studi ini mempunyai misi yang lain. Misinya adalah menanyakan kepada remaja yang belum pernah menggunakan narkoba mengapa mereka tidak tertarik untuk mencoba-coba narkoba seperti sebagian temannya yang lain.

Empat jawaban tertinggi pada pertanyaan, ?mengapa kamu tidak tergoda narkoba?? adalah faktor spiritual, kesadaran kesehatan, pengaruh orang tua, dan hukum.
Kesadaran hukum
Adanya hukum serta penegakannya yang jelas dapat menimbulkan deretan efek pada masyarakat. Hal ini diakui beberapa responden remaja pada penelitian di atas.
Salah satu hal yang menyebabkan remaja tidak berani bermain dengan narkoba adalah takut ditangkap polisi dan dihukum jika tertangkap tangan. Walau seakan-akan di sisi lain ada remaja yang mengambil risiko untuk menggunakan narkoba dan yakin tidak akan tertangkap, ternyata kejelasan hukum dan penegakannya jelas telah memberi efek takut pada remaja kita.
Bahkan, lebih jauh, berdasarkan sebuah deklarasi yang dicanangkan beberapa bulan lalu oleh remaja se-Asia Pasifik di Bali, remaja setuju dengan sebuah kebijakan pemerintah yang memihak pada mayoritas. Kebijakan yang menolak segala penyalahgunaan narkoba dan semua terapi penyembuhan yang menggunakan cara-cara pengurangan dampak buruk seperti terapi substitusi metadon dan pembagian jarum suntik. Menurut mereka, rehabilitasi perlu diusahakan ke arah abstinensi dan bukan sekadar mengurangi dosis.

Patuh Pada Orangtua
Responden mengakui bahwa peran nasihat dan batasan yang pernah mereka dapatkan dari orang tua mereka sangat bermanfaat ketika berhadapan dengan situasi yang mengharuskan mereka memilih.
Seorang ahli ilmu keluarga dari Universitas Minnesota, Dr Allen di tahun 2002 menyatakan, bahwa membuat batasan dalam hidup anak itu sama seperti membangun pagar di sepanjang jembatan. Pagar ini adalah pagar kasih yang melindungi anak dari bahaya fisik dan psikologis di kehidupan sehari- hari. Ellen Galinsky dari Ohio State University menambahkan bahwa ?pagar? ini justru membuat anak merasa lebih aman dan dicintai.
Berbagai penelitian mengonfirmasi bahwa keterlibatan aktif orang tua dalam hidup anak dapat mengurangi risiko anak terkena narkoba. Penelitian yang dilakukan oleh NIDA (National Institute of Drug Abuse, Amerika) di tahun 2002 menemukan bahwa orang tua yang berkomitmen untuk makan bersama anak setidaknya 4-5 kali seminggu akan menurunkan risiko anak terkena narkoba hingga 50 persen.

Kesadaran Hidup Bersih dan Sehat
Kesadaran di sini bicara tentang dua hal. Pertama, kesadaran remaja terhadap pengaruh narkoba pada kesehatan mereka. Kedua, kesadaran remaja tentang pentingnya mengadopsi gaya hidup bersih dan positif.
Peran kedua kesadaran terhadap pilihan-pilihan yang diambil remaja dalam hidupnya sangat besar. Kesadaran yang melandasi munculnya niat atau motif untuk turut atau tidaknya ke dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkoba dan seks bebas, misalnya. Eksposure yang memadai atas hal ini akan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan gaya hidup bersih dan sehat.
Ada pertanyaan sederhana yang dapat kita tanyakan kepada remaja kita untuk mengecek kesadaran mereka tentang narkoba. Tanyakan kepada mereka mana yang benar, narkoba berbahaya karena ilegal atau narkoba ilegal karena berbahaya?

Kematangan emosi
Remaja dianggap sebagai masa topan-badai sehubungan banyaknya perubahan yang terjadi pada dirinya (fisik dan emosional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mampu mengendalikan dirinya (tidak mengikuti dorongan yang meletup-letup) ternyata lebih bisa terhindar dari masalah narkoba.
Kematangan emosi juga terkait dengan bagaimana mereka mengatasi persoalan yang muncul. Mereka yang mampu menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin ternyata lebih terhindar dari bahaya narkoba.
Membiasakan remaja untuk mampu mengambil keputusan secara rasional dan mandiri merupakan salah satu cara yang sangat disarankan untuk para orang tua.

Spiritual
Hal yang paling menarik yang ditemukan pada penelitian ini adalah jawaban responden terhadap apa yang membuat mereka tidak mau bereksperimen dengan narkoba. Mulai dari ?takut masuk neraka? atau ?takut Tuhan marah? sampai ke keyakinan remaja bahwa ?narkoba itu kan dosa?.
Dasar iman pada diri remaja adalah salah satu faktor protektif terandal. Iman diyakini remaja dapat membawa mereka kepada keluhuran budi dan moralitas. Remaja mengakui kesetiaan mereka terhadap iman yang mereka pilih membawa sejahtera dan damai di hati. Ini adalah hal pribadi yang tidak dapat dipungkiri. Memang, kebenaran yang didasari iman itu akan tertanam dalam hati kita dan kelak menjadi lentera yang menerangi jalan ketika kita menghadapi tantangan dan pilihan dalam hidup.
Tingkat spiritual ini tentunya menjadi kompas bagi remaja untuk membuat pilihan-pilihan bijaksana mulai dari dunia online sampai kepada pilihan mengenai narkoba.
Saya rasa kita memiliki harapan luar biasa ketika kita memberikan kepercayaan kepada remaja. Kepercayaan yang berlandaskan kasih dan pengetahuan yang benar yang membekali mereka di saat-saat sulit.
Sebagian besar remaja tahu membedakan yang baik dan buruk karena mereka memiliki faktor protektif alami dalam diri mereka. Selama mereka tidak mengeraskan hati dan memungkiri kebenaran yang tertulis di hati mereka, harapan untuk Indonesia bebas narkoba masih ada.
Oleh karena itu, Pusat Pencegahan Badan Narkotika Nasional, mengembangkan metode pencegahan yang diimplementasikan dengan kegiatan alternatif dalam bentuk olahraga atau berkesenian seperti teater, musik dan tari untuk mengasah kepekaan jiwa, rasa dan naluri. Dengan olah raga tentunya bisa mendorong mereka bergaya hidup sehat. ?Semua itu merupakan kegiatan alternatif yang bisa menjadi sarana bagi para remaja untuk tidak terjerat pada narkoba.
Kegiatan alternatif sangat penting bagi anak-anak pelajar ataupun mahasiswa. Karena ini nantinya akan berkaitan dengan metode komunikasi dan informasi yang efektif tentang anti penyalahgunaan narkoba. (*)

By kampungbenar Posted in ARTIKEL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s